Minggu, 27 Desember 2015

Pemeriksaan Makroskopis dan Mikroskopis Urine



Pemeriksaan Makroskopik-Mikroskopik Urine


     Dikenal pemeriksaan urin rutin dan lengkap. Yang dimaksud dengan pemeriksaan urin rutin adalah pemeriksaan makroskopik, mikroskopik dan kimia urine yang meliputi pemeriksaan protein dan glukosa.Sedangkan yang dimaksud dengan pemeriksaan urine lengkap adalah pemeriksaan urine rutin yang dilengkapi dengan pemeriksaan benda keton, bilirubin,urobilinogen, darah samar dan nitrit.


A.    Makroskopik Urine
     Yang diperiksa adalah volume, warna, kejernihan, berat jenis, bau dan pH urine. Pengukuran volume urine berguna untuk menafsirkan hasil pemeriksaan kwantitatif atau semi kwantitatif suatu zat dalam urine dan untuk menentukan kelainan dalam keseimbangan cairan badan.
Pengukuran volume urine yang dikerjakan bersama dengan berat jenis urine bermanfaat untuk menentukan gangguan faal ginjal.

1.      Volume

     Banyak sekali faktor yang mempengaruhi volume urine seperti umur, berat badan, jenis kelamin, makanan dan minuman, suhu badan, iklim dan aktivitas orang yang bersangkutan. Rata-rata didaerah tropik volume urine dalam 24 jam antara 800 – 1300 ml untuk orang dewasa. Bila didapatkan volume urin selama 24 jam lebih dari 2000 ml maka keadaan itu disebut poliuria. Poliuria ini mungkin terjadi pada keadaan fisiologik seperti pemasukan cairan yang berlebihan, nervositas, minuman yang mempunyai efek diuretika. Selain itu poliuri dapat pula disebabkan oleh perubahan patologik seperti diabetes mellitus, diabetes insipidus, hipertensi, pengeluaran cairan dari edema.  Bila volume urine selama 24 jam 300-750 ml maka keadaan ini dikatakan oliguri. Keadaan ini mungkin didapat pada diare, muntah - muntah, deman edema, nefritis menahun. Anuria adalah suatu keadaan dimana jumlah urine selama 24 jam kurang dari 300 ml. Hal ini mungkin dijumpai pada shock dan kegagalan ginjal. Jumlah urin siang 12 jam dalam keadaan normal 2 sampai 4 kali lebih banyak dari urin malam 12 jam. Bila perbandingan tersebut terbalik disebut nokturia, seperti didapat pada diabetes mellitus


2.      Warna

Pemeriksaan terhadap warna urine mempunyai makna karena kadang-kadang dapat menunjukkan kelainan klinik. Warna urine di nyatakan dengan tidak berwarna, kuning muda, kuning, kuning tua, kuning bercampur merah, merah, coklat, hijau, putih susu dan sebagainya. Warna urine dipengaruhi oleh kepekatan urin, obat yang di minum maupun makanan. Pada umumnya warna di tentukan oleh kepekatan urin, makin banyak diuresa makin muda warna urin itu. Warna normal urin berkisar antara kuning muda dan kuning tua yang disebabkan oleh beberapa macam zat warna seperti urochrom, urobilin dan porphyrin. Bila didapatkan perubahan warna mungkin disebabkan oleh zat warna yang normal ada dalam jumlah besar, seperti urobilin menyebabkan warna coklat.
Disamping itu perlu dipertimbangkan kemungkinan adanya zat warna abnormal, seperti hemoglobin yang menyebabkan warna merah dan bilirubin yang menyebabkan warna coklat. Warna urine yang dapat disebabkan oleh jenis makanan atau obat yang diberikan kepada orang sakit seperti obat dirivat fenol yang memberikan warna coklat kehitaman pada urine.
Kejernihan dinyatakan dengan salah satu pendapat seperti jernih, agak keruh, keruh atau sangat keruh. Biasanya urine segar pada orang normal jernih.
Kekeruhan ringan disebut nubecula yang terdiri dari lendir, sel epitel dan leukosit yang lambat laun mengendap. Dapat pula disebabkan oleh urat amorf, fosfat amorf yang mengendap dan bakteri dari botol penampung. Urine yang telah keruh pada waktu dikeluarkan dapat disebabkan oleh chilus, bakteri, sedimen seperti epitel, leukosit dan eritrosit dalam jumlah banyak

3.      BJ

Pemeriksaan berat jenis urine bertalian dengan faal pemekatan ginjal, dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu dengan memakai falling drop, gravimetri, menggunakan pikno meter, refraktometer dan reagens 'pita'. Berat jenis urin sewaktu pada orang normal antara 1,003 - 1,030 . Berat jenis urin herhubungan erat dengan diuresa, makin besar diuresa makin rendah berat jenisnya dan sebaliknya. Makin pekat urine makin tinggi berat jenisnya, jadi berat jenis bertalian dengan faal pemekat ginjal. Urin sewaktu yang mempunyai berat jenis 1,020 atau lebih, menunjukkan bahwa faal pemekat ginjal baik. Keadaan ini dapat dijumpai pada penderita dengan demam dan dehidrasi. Sedangkan berat jenis urin kurang dari 1,009 dapat disebabkan oleh intake cairan yang berlebihan, hipotermi, alkalosis dan kegagalan ginjal yang menahun.

4.      Bau

Untuk menilai bau urin dipakai urin segar, yang perlu diperhatikan adalah bau yang abnormal. Bau urine normal disebabkan oleh asam organik yang mudah menguap. Bau yang berlainan dapat disebabkan oleh makanan seperti jengkol, petai, obat-obatan seperti mentol, bau buah-buahan seperti pada ketonuria. Bau amoniak disebabkan perombakan ureum oleh bakteri dan biasanya terjadi pada urine yang dibiarkan tanpa pengawet. Adanya urin yang berbau busuk dari semula dapat berasal dari perombakan protein dalam saluran kemih umpamanya pada karsinoma saluran kemih.

5.      pH

Penetapan pH diperlukan pada gangguan keseimbangan asam basa, kerena dapat memberi kesan tentang keadaan dalam badan. pH urine normal berkisar antara 4,5 - 8,0 . Selain itu penetapan pH pada infeksi saluran kemih dapat memberi petunjuk ke arah etiologi. Pada infeksi oleh Escherichia coli biasanya urine bereaksi asam, sedangkan pada infeksi dengan kuman Proteus yang dapat merombak ureum menjadi amoniak akan menyebabkan urin bersifat basa. Dalam pengobatan batu karbonat atau kalsium fosfat urine dipertahankan asam, sedangkan untuk mencegah terbentuknya batu urat atau oksalat pH urine sebaiknya dipertahankan basa.

B.     Mikroskopik Urine

Yang dimaksud dengan pemeriksaan mikroskopik urine yaitu pemeriksaan sedimen urine. Ini penting untuk mengetahui adanya kelainan pada ginjal dan saluran kemih serta berat ringannya penyakit.Urine yang dipakai ialah urin sewaktu yang segar atau urine yang dikumpulkan dengan pengawet formalin.
Pemeriksaan sedimen dilakukan dengan memakai lensa objektif kecil (10X) yang dinamakan lapangan penglihatan kecil atau LPK.Selain itu dipakai lensa objektif besar (40X) yang dinamakan lapangan penglihatan besar atau LPB.  Jumlah unsur sedimen bermakna di laporkan secara semi kuantitatif,yaitu : Jumlah rata-rata per LPK untuk silinder dan per LPB untuk eritrosit dan leukosit.
Unsur sedimen yang kurang bermakna seperti epitel atau kristal cukup dilaporkan dengan :
 + (ada),
 ++ (banyak)
 +++ (banyak sekali).

Unsur sedimen dibagi atas dua golongan yaitu :
* unsur organik
* non organik.

Unsur organik berasal dari sesuatu organ atau jaringan antara lain epitel, eritrosit, leukosit, silinder, potongan jaringan,sperma, bakteri, parasit dan yang non organik tidak berasal dari sesuatu organ atau jaringan.seperti urat amorf dan kristal. Eritrosit atau Leukosit didalam sedimen urine mungkin terdapat dalam urin wanita yang haid atau berasal dari saluran kernih.
Dalam keadaan normal tidak dijumpai eritrosit dalam sedimen urin, sedangkan Leukosit hanya terdapat 0 - 5/LPK dan pada wanita dapat pula karena kontaminasi dari genitalia. Adanya eritrosit dalam urine disebut hematuria. Hematuria dapat disebabkan oleh perdarahan dalam saluran kemih, seperti infark ginjal, nephrolithiasis, infeksi saluran kemih dan pada penyakit dengan diatesa hemoragik.  Terdapatnya Leukosit dalam jumlah banyak di urin disebut piuria.  Keadaan ini sering dijumpai pada infeksi saluran kemih atau kontaminasi dengan sekret vagina pada penderita dengan fluor albus. Epitel merupakan unsur sedimen organik yang dalam keadaan normal didapatkan dalam sedimen urin.Dalam keadaan patologik jumlah epitel ini dapat meningkat, seperti pada infeksi,radang dan batu dalam saluran kemih.  Pada sindroma nefrotik di dalam sedimen urin mungkin didapatkan oval fat bodies. Ini merupakan epitel tubuli ginjal yang telah mengalami degenerasi lemak, dapat dilihat dengan memakai zat warna Sudan III/IV atau diperiksa dengan menggunakan mikroskop polarisasi.
Kristal dalam urin tidak ada hubungan langsung dengan batu didalam saluran kemih.

Kristal asam urat, kalsium oksalat, triple fosfat dan bahan amorf merupakan kristal yang sering ditemukan dalam sedimen dan tidak mempunyai arti, karena kristal-kristal itu merupakan hasil metabolisme yang normal.Terdapatnya unsur tersebut tergantung dari jenis makanan, banyak makanan, kecepatan metabolisme dan kepekatan urine.
Disamping itu mungkin didapatkan kristal lain yang berasal dari obat -obatan atau kristal-kristal lain seperti kristal tirosin, kristal leucin.
Silinder adalah endapan protein yang terbentuk didalam tubulus ginjal, mempunyai matrix berupa glikoprotein (protein Tamm Horsfall) dan kadang-kadang dipermukaannya terdapat leukosit, eritrosit dan epitel.Pembentukan silinder dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain osmolalitas, volume, pH dan adanya glikoprotein yang disekresi oleh tubuli ginjal.
Dikenal bermacam-macam silinder yang berhubungan dengan berat ringannya penyakit ginjal. Banyak peneliti setuju bahwa dalam keadaan normal bisa didapatkan sedikit eritrosit, lekosit dan silinder hialin. Terdapatnya silinder seluler seperti silinder lekosit, silinder eritrosit, silinder epitel dan sunder berbutir selalu menunjukkan penyakit yang serius.
Pada pielonefritis dapat dijumpai silinder lekosit dan pada glomerulonefritis akut dapat ditemukan silinder eritrosit. Sedangkan pada penyakit ginjal yang berjalan lanjut didapat silinder berbutir dan silinder lilin.

C.    Pemeriksaan Warna Urine

Warna urine normal adalah kuning muda atau kuning jerami, jernih. Pada produksi urine yang banyak, berat jenisnya antara 1.015 - 1.030 tergantung pada konsentrasi bahan solid yang larut dalam urine. bila produksi urine sedikit, maka urine menjadi pekat dan berat jenisnya naik, sedangkan warnanya lebih gelap. bila berat jenisnya turun, berarti urine lebih encer dan menjadi tidak bewarna, seperti yang terjadi pada diabetes insipidus.
Urine normal agak asam atau pH nya kurang dari 7. Urine normal mengandung urea, kreatinin, asam urat, garam, pigmen empedu, dan asam oksalat. bila urine normal ini disimpan, maka akan bereaksi menjadi bersifat alkalis, karena urea diubah menjadi amonia. Urine dikatakan tidak normal apabila mengandung albumin, gula, aseton, nanah, ataupun butir darah, serta kast positif. Dalam keadaan normal, seseorang akan membuang air kecil setiap 3 - 4 jam.

1. Warna Merah :
- Ada hemonglobin, mioglobin dan porfirin ( berarti ada perdarahan saluran kencing ).
- Oleh karena obat tertentu.
- Karena zat warna dari makanan tertentu, misal biet, senna, robarber.

2. Warna Jingga :
- Zat warna empedu.
-Karena obat-obat: antiseptic saluran kencing, pyridium, dan obat fenothiazin.

3. Warna Kuning :
- Urine pekat.
- Keberadaan urobilin dan bilirubin.
- Obat preparat vitamin dan obat psikoaktif.

4. Warna Hijau :
- Keberadaan biliverdin.
- Keradaan bakteri pseudomonas
- Obat preparat vitamin dan obat psikoaktif.

5. Warna Biru
   karena patologis Deuretika tertentu.

6. Warna Coklat :
- Keberadaan hematin asam, mioglobin dan zat warna empedu
- Obat-obat nitrofurantioin, levodova.

7. Warna Hitam/ hampir hitam :
Keberadaan melanin, kaskara, senyawa besi dan fenol.
- Obat levodova, kaskara, senyawa besi dan fenol .

Urine yang berwarna coklat disertai buih biasanya disebabkan oleh penyakit liver atau saluran empedu. Pemeriksaan urine di bawah mikroskop dilakukan untuk mengetahui apakah ada butir darah merah maupun butir darah putih, sel epithel, bakteri, jamur, dan kristal.

D.    Sampel Urine

1.      Pemilihan jenis sampel urine.
Tenik pengumpulan sampai dengan pemeriksaan harus dilakukan dengan prosedur yang benar.
Jenis sampel urine :

a.      Urine sewaktu / urine acak (random).

Urine sewaktu adalah urine yang dikeluarkan setiap saat dan tidak ditentukan secara khusus. Mungkin sampel encer, isotonik, atau hipertonik dan mungkin mengandung sel darah putih, bakteri, dan epitel skuamosa sebagai kontaminan. Jenis sampel ini cukup baik untuk pemeriksaan rutin.

b.      Urine pagi

Pengumpulan sampel pada pagi hari setelah bangun tidur, dilakukan sebelum makan atau menelan cairan apapun. Urine satu malam mencerminkan periode tanpa asupan cairan yang lama, sehingga unsur - unsur yang terbentuk mengalami pemekatan. Urine pagi baik untuk pemeriksaan sedimen dan pemeriksaan rutin serta tes kehamilan berdasarkan adanya HCG (human chorionic gonadothropin) dalam urine.

c.       Urine tampung 24 jam
Urine tampung 24 jam adalah urine yang dikeluarkan selama 24 jam terus -menerus dan dikumpulkan dalam satu wadah. Urine jenis ini biasanya digunakan untuk analisa kuantitatif suatu zat dalam urine, misalnya ureum, kreatinin, natrium, dsb. Urine dikumpulkan dalam suatu botol besar ber volume 1.5 liter dan biasanya dibubuhi bahan pengawet, misalnya toluene.




E.     Wadah Spesimen

Wadah untuk menampung spesimen urine sebaiknya terbuat dari bahan plastik, tidak mudah pecah, bermulut lebar, dapat menampung 10-15 ml urine dan dapat ditutup dengan rapat. Selain itu juga harus bersih, kering, tidak mengandung bahan yang dapat mengubah komposisi zat-zat yang terdapat dalam urine.

F.     Prosedur Pengumpulan

Pengambilan spesimen urine dilakukan oleh penderita sendiri (kecuali dalam keadaan yang tidak memungkinkan). Sebelum pengambilan spesimen, penderita harus diberi penjelasan tentang tata cara pengambilan yang benar. Spesimen urine yang ideal adalah urine pancaran tengah (midstream), di mana aliran pertama urin dibuang dan aliran urine selanjutnya ditampung dalam wadah yang telah disediakan. Pengumpulan urine selesai sebelum aliran urine habis. Aliran pertama urine berfungsi untuk menyiram sel-sel dan mikroba dari luar uretra agar tidak mencemari spesimen urine. Sebelum dan sesudah pengumpulan urine, pasien harus mencuci tangan dengan sabun sampai bersih dan mengeringkannya dengan handuk, kain yang bersih atau tissue. Pasien juga perlu membersihkan daerah genital sebelum berkemih. Wanita yang sedang haid harus memasukkan tampon yang bersih sebelum menampung spesimen.Pasien yang tidak bisa berkemih sendiri perlu dibantu orang lain (mis. keluarga atau perawat). Orang-orang tersebut harus diberitahu dulu mengenai cara pengumpulan sampel  urine. Pada pasien bayi dipasang kantung penampung urine pada genitalia. Pada kondisi tertentu, urine kateter juga dapat digunakan.
Prosedur ini menyebabkan 1 - 2 % risiko infeksi dan menimbulkan trauma uretra dan kandung kemih. Untuk menampung urine dari kateter, lakukan desinfeksi pada bagian selang kateter dengan menggunakan alkohol 70%.  Aspirasi urine dengan menggunakan spuit sebanyak 10 - 12 ml. Masukkan urine ke dalam wadah dan tutup rapat. Segera kirim sampel urine ke laboratorium.

1.      Cara pengumpulan urine 24 jam adalah :  
-          Pada hari pengumpulan, pasien harus membuang urin pagi pertama.
-          Catat tanggal dan waktunya. Semua urine yang dikeluarkan pada periode selanjutnya ditampung.Jika pasien ingin buang air besar, kandung kemih harus di kosongkan terlebih dahulu untuk menghindari kehilangan air seni dan kontaminasi feaces pada sampel urine wanita.
-          Keesokan paginya tepat 24 jam setelah waktu yang tercatat pada wadah, pengumpulan urin di hentikan.Spesimen urine sebaiknya didinginkan selama periode pengumpulan.

2.      Biakan Urine
Spesimen urine apabila ditampung secara benar mempunyai nilai diagnostic yang besar, tetapi bila tercemar oleh kuman yang bersal dari uretra atau peritoneum dapat menyebabkan salah penafsiran. Sampel urine acak cukup baik untuk biakan kuman. Namun, bila spesimen urine acak tidak menunjukkan pertumbuhan, urine pekat atau urine pagi dapat digunakan. Sampel urine yang dikumpulkan adalah urine midstream clean-catch.
Biakan kuman dengan sampel ini dapat menentukan diagnosis secara teliti pada 80% penderita wanita dan hampir 100% penderita pria, apabila lubang uretra dibersihkan sesuai persyaratan. Urine clean-catch adalah spesimen urin midstream yang dikumpulkan setelah membersihkan meatus uretra eksternal. Urine jenis ini biasanya digunakan untuk tes biakan kuman (kultur). Sebelum mengumpulkan urine, pasien harus membersihkan daerah genital dengan air bersih atau steril. Jangan gunakan deterjen atau desinfektan.
Tampung urine bagian tengah ke dalam wadah yang steril. Kumpulkan urin menurut volume direkomendasikan, yaitu 20 ml untuk orang dewasa dan 5-10 ml untuk anak-anak. Pada keadaan yang mengharuskan kateter tetap dibiarkan dalam saluran kemih dengan sistem drainase tertutup, urine untuk biakan dapat diperoleh dengan cara melepaskan hubungan antara kateter dengan tabung drainase atau mengambil sampel dari kantung drainase.
Bila tidak memungkinkan memperoleh urine yang dikemihkan atau bila diduga terjadi infeksi dengan kuman anaerob, aspirasi suprapubik merupakan cara penampungan yang paling baik. Spesimen yang menunjukkan pertumbuhan lebih dari satu jenis kuman, dianggap sebagai tercemar, kecuali pada penderita dengan kateter yang menetap.

3.      Cara pengambilan sampel urine clean-catch pada pasien wanita :

Pasien harus mencuci tangannya dengan memakai sabun lalu mengeringkannya dengan handuk, kain yang bersih atau tissue. Tanggalkan pakaian dalam, lebarkan labia dengan satu tangan Bersihkan labia dan vulva menggunakan kasa steril dengan arah dari depan ke belakang. Bilas dengan air bersih dan keringkan dengan kasa steril yang lain. Selama proses ini berlangsung, labia harus tetap terbuka dan jari tangan jangan menyentuh daerah yang telah dibersihkan. Keluarkan urine, aliran urine yang pertama dibuang. Aliran urine selanjutnya ditampung dalam wadah steril yang telah disediakan. Pengumpulan urine selesai sebelum aliran urine habis. Diusahakan agar urine tidak membasahi bagian luar wadah. Wadah ditutup rapat dan segera dikirim FBke laboratorium.    

4.      Cara pengambilan urine clean-catch pada pasien pria :

Pasien harus mencuci tangannya dengan memakai sabun lalu mengeringkannya dengan handuk, kain yang bersih atau tissue. Jika tidak disunat, tarik preputium ke belakang.
Keluarkan urine, aliran urine yang pertama dibuang. Aliran urine selanjutnya ditampung dalam wadah steril yang telah disediakan. Pengumpulan urine selesai sebelum aliran urine habis.
Diusahakan agar urine tidak membasahi bagian luar wadah. Wadah ditutup rapat dan segera dikirim ke laboratorium.
Aspirasi jarum suprapubik transabdominal kandung kemih merupakan cara mendapatkan sampel urine yang paling murni. Pengumpulan urine aspirasi suprapubik harus dilakukan pada kandung kemih yang penuh. Lakukan desinfeksi kulit di daerah suprapubik dengan Povidone iodine 10% kemudian bersihkan sisa Povidone iodine dengan alkohol 70%. Aspirasi urine tepat di titik suprapubik dengan menggunakan spuit Diambil urine sebanyak ± 20 ml dengan cara aseptik/suci hama (dilakukan oleh petugas yang berkompenten). Masukkan urine ke dalam wadah yang steril dan tutup rapat. Segera dikirim ke laboratorium.



SUMBER PUSTAKA

1.       Ensiklopedi indonesia ,Petunjuk Pemeriksaan Laboratorium Puskesmas  depkes 1991 ,Dan berbagai Sumber  , http://ahdc.vet.cornell.edu/clinpath/modules/ua-sed/ua-intro.htm

2.       http://rddachie.blogspot.com/2013/03/pemeriksaan-makroskopik-mikroskopik.html#ixzz3K8U6XLS8

Selasa, 10 November 2015

KARBON MONOKSIDA HEMOGLOBIN (CoHb)

Di udara, Karbon Monoksida (CO) terdapat dalam jumlah yang sangat sedikit, hanya sekitar 0,1 ppm. Di daerah perkotaan dengan lalu lintas yang padat konsentrasi gas CO berkisar antara 10-15 ppm. Sudah sejak lama diketahui bahwa gas CO dalam jumlah banyak (konsentrasi tinggi) dapat menyebabkan gangguan kesehatan bahkan juga dapat menimbulkan kematian.

Karbon monoksida (CO) apabila terhirup ke dalam paru-paru akan ikut peredaran darah dan akan menghalangi masuknya oksigen yang dibutuhkan oleh tubuh. Hal ini dapat terjadi karena gas CO bersifat racun, ikut bereaksi secara metabolis dengan darah (hemoglobin) :

Hemoglobin + CO ———> COHb (Karboksihemoglobin)

Ikatan karbon monoksida dengan darah (karboksihemoglobin) lebih stabil daripada ikatan oksigen dengan darah (oksihemoglobin). Keadaan ini menyebabkan darah menjadi lebih mudah menangkap gas CO dan menyebabkan fungsi vital darah sebagai pengangkut oksigen terganggu.

Dalam keadaan normal konsentrasi CO di dalam darah berkisar antara 0,2% sampai 1,0%, dan rata-rata sekitar 0,5%. Disamping itu kadar CO dalam darah dapat seimbang selama kadar CO di atmosfer tidak meningkat dan kecepatan pernafasan tetap konstan.

Keracunan gas karbon monoksida dapat ditandai dari keadaan ringan, berupa pusing, rasa tidak enak pada mata, sakit kepala, dan mual. Keadaan yang lebih berat dapat berupa detak jantung meningkat, rasa tertekan di dada, kesukaran bernafas, kelemahan otot-otot, gangguan pada sisten kardiovaskuler, serangan jantung sampai pada kematian.

Selasa, 22 September 2015

Hepatitis B


          -  Pengertian Virus
Virus adalah parasit mikroskopik yang menginfeksi sel organisme biologis. Virus bersifat parasit obligat, hal tersebut disebabkan karena virus hanya dapat bereproduksi di dalam material hidup dengan menginvasi dan memanfaatkan sel makhluk hidup karena virus tidak memiliki perlengkapan selular untuk bereproduksi sendiri. Biasanya virus mengandung sejumlah kecil asam nukleat (DNA atau RNA, tetapi tidak kombinasi keduanya) yang diselubungi semacam bahan pelindung yang terdiri atas protein, lipid, glikoprotein, atau kombinasi ketiganya. Genom virus akan diekspresikan menjadi baik protein yang digunakan untuk memuat bahan genetik maupun protein yang dibutuhkan dalam daur hidupnya.
Istilah virus biasanya merujuk pada partikel-partikel yang menginfeksi sel-sel eukariota (organisme multisel dan banyak jenis organisme sel tunggal), sementara istilah bakteriofag atau fag digunakan untuk jenis yang menyerang jenis-jenis sel prokariota (bakteri dan organisme lain yang tidak berinti sel).
Virus sering diperdebatkan statusnya sebagai makhluk hidup karena ia tidak dapat menjalankan fungsi biologisnya secara bebas jika tidak berada dalam sel inang. Karena karakteristik khasnya ini virus selalu terasosiasi dengan penyakit tertentu, baik pada manusia (misalnya virus influenza dan HIV), hewan (misalnya virus flu burung), atau tanaman (misalnya virus mosaik tembakau/TMV).

- Hepatitis B
Menurut Dorland (2002), Hepatitis B adalah penyakit virus yang disebabkan oleh virus hepatitis B yang endemik di seluruh dunia. Hepatitis B mempunyai nama lain, yaitu hepatitis tipe B, serum hepatitis dan penyakit kuning serumhomologous. Menurut Franco et al (2012), infeksi virus hepatitis B merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius dimana infeksi dapat ditularkan melalui hubungan seksual , kontak parenteral atau dari ibu yang terinfeksi kepada bayinya saat lahir dan, Jika menginfeksi sejak awal kehidupan, dapat menyebabkan penyakit  hati kronik,termasuk sirosis dan karsinoma hepatoselular.

 - Morfologi Virus Hepatitis B
Virus hepatitis B (HBV) termasuk golongan hepadnavirus tipe 1 dan merupakan virus hepadna yang pertama kali ditemukan. Hepadnavirus juga ditemukan pada marmut, tupai, dan bebek; tetapi virus yang menginfeksi binatang tersebut tidak dapat menular pada manusia. Selain manusia. Human HBV juga dapat menginfeksi simpanse. Virus hepatotropik ini mengandung DNA dengan cincin ganda sirkular yang terdiri dari 3200 nukleotida dengan diameter 42 nm dan terdiri dari 4 gen. Virus hepatitis B dapat ditemukan dalam 3 komponen yaitu partikel lengkap berdiameter 42 nm, partikel bulat berdiameter 22 nm, dan partikel batang dengan lebar 22 nm dengan panjang bervariasi sampai 200 nm. Pada sirkulasi, komponen terbanyak adalah bentuk bulat dan batang yang terdiri atas protein, cairan, dan karbohidrat yang membentuk hepatitis B surface antigen (HBsAg) dan antigen pre-S. Bagian dalam dari virion adalah core. Core dibentuk oleh selubung hepatitis B core antigen (HBcSg) yang membungkus DNA, DNA polymerase, transcriptase, dan protein kinase untuk replikasi virus. Komponen antigen yang terdapat dalam core adalah hepatitis B e antigen (HBeAg). Antigen ini menjadi petunjuk adanya replikasi virus yang terjadi pada limfosit, limpa, ginjal, pankreas dan terutama hati. HBeAg merupakan pertanda tidak langsung dari derajat beratnya infeksi (Arief, 2012).


Taksonomi Virus :

Kelas:
Kelas VII (dsDNA-RT)
Famili:
Genus:
Spesies:
Virus Hepatitis B
 
  



  


- Replikasi Virus  Hepatitis B
Virus memerlukan bahan-bahan dari sel organisme lain dalam bereplikasi.Replikasi pada virus secara umum dibagi menjadi 2, yaitu siklus litik dan sikluslisogenik. Siklus litik merupakan cara reproduksi virus dengan puncaknya berupakematian dari inang. Secara umum, siklus litik terdiri dari:
1.              Adsorbsi
2.              Injeksi atau penetrasi
3.              Sintesis atau replikasi
4.              Perakitan
Litik atau Lisis atau PembebasanDNA virus memerintahkan metabolisme sel inang untuk memproduksi enzim(lisozim) yang dapat merusak dinding sel bakteri, sehingga enzim tersebut mampumenyebabkan dinding sel lisis atau pecah.
          Pada siklus lisogenik sel inang tidak hancur namun akan disisipi oleh asamnukleat dari virus, sehingga tahap penyisipan tersebut akan membentuk provirus. Sikluslisogenik terdiri tahapan:
1.              Adsorbsi
2.              Injeksi
3.              Penggabungan
4.              Pembelahan
5.              Sintesis

Replikasi berawal dari virus mengikat permukaan sel dan masuk dengan keadaanlow density lipoprotein receptor (LDLR), glukosaminoglikan (GAG), scavenger receptor class B type I (SR-BI), protein tetrasparin CD81 dan caludin-1 (CLDN1). CLDN1 berfungsi pada tahap akhir sel masuk, mungkin pada pertemuan yang sempit hepatositterpolarisasi. Internalisasi tergantung pada clathrin-mediated endocytosis. Pengasamanendosome akan menginduksi fusi membran glikoprotein HCV. Proses uncoating sedikitdiketahui dari adanya pembebasan genom ke sitosol.Protein nonstruktural (NS) terdiri dari NS2, NS3, NS4A, NS4B, NS5A, dan NS5B. Protein nonstruktural berperan dalam replikasi virus. Protein NS2 mempunyaiaktivitas protease. Protein NS3 mempunyai dua aktivitas utama, yaitu serin protease dan NTPase atau helikase. Protein NS4A berperan sebagai kofaktor serin protease NS3,sedangkan NS4B belum diketahui fungsinya secara jelas. NS5A merupakan fosfoproteinyang fungsinya belum diketahui secara jelas. Protein ini bersifat hidrofilik dan sangatsensitif terhadap interferon. NS5B mempunyai peranan dalam aktivitas RNA dependent  RNA polimerase (RdRp) (Tellinghuisen 2007).

          - Diagnosa Penyakit 
Diagnosa penyakit hepatitis B  yaitu dengan pemeriksaan yang nampak dari gejala klinis pasien dan anamnesa pasien melalui riwayat keluarga dan riwayat penyakit yang pernah dialami. Selain itu, pemeriksaan laboratorium perlu dilakukan untuk menegakkan diagnosa dokter. Berikut adalah beberapa parameter pemeriksaan hepatitis B :
-                 Hepatitis B surface antigen (HBsAg)
-                 Hepatitis B e antigen (HBeAg)
-                 Hepatitis B e antibodi (anti-HBe)
-                 Hepatitis B core antibodi (anti-HBc) total
-                 Hepatitis B core antibodi (anti-HBc IgM)
-                 Hepatitis B antibodi (anti-HBs)


            -    Pencegahan
Pencegahan terhadap hepatitis virus ini adalah sangat penting karena sampaisaat ini belum ada obat yang dapat membunuh virus, sehingga satu-satunya jalan untuk mencegah hepatitis virus adalah dengan vaksinasi.